Hari itu tanggal 14 November 2013. 3 hari setelah ulang tahun saya yang ke-24. Saya sudah bekerja di sebuah majalah lokal yang identik dengan kata pedas, ‘seuhah’atau ’lada’. Kurang lebih hari itu bertepatan dengan 28 hari masa kerja saya. Semalam sebelumnya teman kerja saya yang juga merupakan bobotoh Persib Bandung sejati, Tari mengirimkan sms yang kurang lebih begini isinya:
“Aa,
punten sms malem-malem, ngomongin kerjaan lagi. Ini artis ada yg bisa
diinterview buat movie star, dion wiyoko, lewat tlp. Gpp ya? Dia tuh yg main
film serigala terakhir, kuntilanak beranak. Gugling2 aja ya tentang dia
sebelumnya, besok ditlp jam2an gitu kata managernya”.
Sms
itu baru saya baca keesokan paginya, soalnya dia ngirim sms pas saya udah tidur
dan lagi mimpiin si ‘SN’ wanita yang sedang saya incar untuk jadi calon ibu
anak-anak saya.haha.
Baru saya mau bales sms dari temen saya itu, tiba-tiba ada sms masuk, “eh salah, maksudnya Tara Basro yang maen film Make Money bareng Pandji”. Duarrrr….., geblek! Jantung saya tiba-tiba kembang-kempis. ‘Tuur Noroktok’ (lutut gemetaran), aduh kenapa harus dia? Via telepon lagi!? Beuh.., kenapa saya begitu panik? Alasannya cuma satu, her skin and body is awesome dude! [Naon hubunganna coba!?...]
Belum reda dari rasa itu, hari saya semakin ‘indah’ ketika ketiga teman dari masa SMA bertandang ke rumah orang tua saya yang baru lunas tahun 2008 itu. Dengan kantung mata yang tebal, kami berbincang di teras rumah ditemani manisan yang dibawa ayah saya setelah berdinas di Kota Cianjur. Jam menunjukkan pukul 07.12 mereka bercerita terbahak-bahak entah apa yang sedang ditertawakan, mungkin tentang perjalan mereka setelah mengantar salah satu ayah teman saya ke bandara. Ayah teman saya itu katanya akan terbang ke Timor Leste untuk sebuah proyek pembuatan jalan.
Baru saya mau bales sms dari temen saya itu, tiba-tiba ada sms masuk, “eh salah, maksudnya Tara Basro yang maen film Make Money bareng Pandji”. Duarrrr….., geblek! Jantung saya tiba-tiba kembang-kempis. ‘Tuur Noroktok’ (lutut gemetaran), aduh kenapa harus dia? Via telepon lagi!? Beuh.., kenapa saya begitu panik? Alasannya cuma satu, her skin and body is awesome dude! [Naon hubunganna coba!?...]
Belum reda dari rasa itu, hari saya semakin ‘indah’ ketika ketiga teman dari masa SMA bertandang ke rumah orang tua saya yang baru lunas tahun 2008 itu. Dengan kantung mata yang tebal, kami berbincang di teras rumah ditemani manisan yang dibawa ayah saya setelah berdinas di Kota Cianjur. Jam menunjukkan pukul 07.12 mereka bercerita terbahak-bahak entah apa yang sedang ditertawakan, mungkin tentang perjalan mereka setelah mengantar salah satu ayah teman saya ke bandara. Ayah teman saya itu katanya akan terbang ke Timor Leste untuk sebuah proyek pembuatan jalan.
Tak lama berbincang ngalor-ngidul kami pun mulai terpaku dengan gadget masing-masing. Entah mengapa tiba-tiba kami terperangkap kedalam sebuah permainan yang terdapat pada aplikasi gadget dengan operation system android. Aplikasi itu bernama ‘Pou’.. bersusah payah kami mencoba segala macam setting-an agar bisa bermain multiplayer. Sejenak saya jadi lupa akan rasa yang menghantui itu. Tak terasa jam sudah menujukkan pukul 13.35, hanya 25 menit lagi saya harus melaksanakan salah satu ‘perintah’ itu. Jantung semakin berdetak kencang, tiba-tiba saya keluar dari permainan itu dan beranjak ke dapur untuk melaksanakan semacam ‘pelarian’, saya mulai mengupas dan mengiris bawang , lalu saya keluarkan semua bahan-bahan makanan yang ada di kulkas dan mulailah saya memasak.
Ketika memasak ada perasaan yang
sungguh melegakan hati, entah mengapa akhir2-akhir ini saya selalu menikmati proses
memasak. Meskipun seringkali masakan saya kurang enak, malah hambar dan tanpa
rasa. Sejenak saya berpikir untuk mengurungkan niat mengikuti salah satu
kompetisi memasak di salah satu TV Nasional yang dipandu salah satu chef yang
mirip sekali dengan mantan saya, body
nya yang padat dan karakter wajah yg gahar membuat saya tertarik pada sosok ini. [Stop! Back to the main issue…]
Akhirnya waktu pun tiba, saya pun
telah selesai memasak. Terciptalah Nasi Goreng ala kadarnya dan Spaghetti saus
tomat segar. Ya bisa anda tebak lah rasanya seperti apa. Tapi karena
teman-teman saya sangat kelaparan akibat perjalanan dari bandara – cimahi,
masakan itu habis juga. Oh iya pada bagian ini sebeneranya sebelum semua
masakan habis saya melakukan wawancara dengan Tara Basro. Saking groginya saya
memerintahkan teman-teman saya untuk mengeluarkan gadget-nya masing-masing dan mulai merekam ketika saya menekan
tombol call. Berjalanlah wawancara
itu, dan Alhamdulillah mulus, semulus paha………. (ilang sinyal). Hanya satu yang
saya ingat dari kemulusan itu, Suara yang sangat indah dan mendesah….., aaah!!
(kemudian dijitak teman saya) plaaak!!.. eh harusnya suaranya taaak!! Ya
begitulah, apalah artinya sebuah suara.. *meh
Foto: Bamboom Production

kakakakakakkk juara bro.. lanjutkan
ReplyDeleteterima kasih apresiasinya kang :)
DeleteKeren mang, make some memories :') - Mamo Sitampan
ReplyDeleteengke dikumpulkeum, diedit, terus jadi bahan api unggun ker taun baru nya mo.haha
ReplyDelete