Sebuah profil sederhana dari kesediaan seorang jurnalis yang juga rekan kerja saya. Terima kasih atas semua ilmu dan kerendahan hati untuk menulis "Saya"
Semoga tetep bawel, kece, banyak rezeki dan tetap membumi :)
Fawzi Maulana Ilyas Affandi: Aspiring Journalist
Media massa tumbuh pesat di era keterbukaan informasi kini. Profesi jurnalis tak lagi identik dengan jam kerja ekstra dan gaji kecil. In fact, a fun work with promising future. Is it? Lets hear from Fawzi, a journalist himself!
Sejak lama, Fawzi mengidamkan bekerja sebagai jurnalis. He isn't a big fan of routinity, from the start. “Apalagi mengerjakan suatu hal yang sama setiap hari sebagai mata pencaharian. Wah, nggak terbayang deh,” ujarnya setengah bergidik. Mahasiswa tingkat akhir Public Relation Universitas Islam Bandung ini terpikat dunia media massa karena ritme kerjanya dinamis. Dan memungkinkan Uji—panggilan akrabnya—bertemu banyak orang baru.
Gayung bersambut. Seorang teman Uji mengabari lowongan sebagai reporter di Icihers Magazine. Sebuah free magazine berbasis di Kota Kembang. Uji tak menyangka diterima dan langsung dipekerjakan. Pasalnya, Uji tak punya latar belakang jurnalistik atau pengalaman menulis selain di blog pribadi. Feels good, living your dream, eh? Uji menggeleng seraya menjentikkan abu rokoknya. Pengalaman menjadi freelance staff sebuah biro iklan membuatnya membayangkan masuk kantor setiap hari, menulis naskah majalah. Meskipun advertising dan mass media sama-sama industri kreatif, faktanya jauh dari itu. “Reporter ternyata bisa ngantor pake kolor,” candanya tersenyum.
This even better. Pria berkacamata ini sangat nyaman bekerja sebagai reporter. Dunia jurnalistik menggembleng Uji dalam waktu singkat. Memperkaya sudut pandang sehingga lebih bijak melihat suatu hal. Mewawancarai berbagai narasumber, membuat Uji lebih membuka diri dan pikiran. Deadline secara konstan mendidik disiplin dan manajemen waktu yang baik. Pehobi nonton film dan sepak bola ini mengaku awalnya sempat menyepelekan profesi tulis-menulis. “Setelah menjalani sendiri, baru memahami ternyata bukan pekerjaan mudah ya,” aku pecinta Manchester United dan Timnas Inggris ini.
Dunia jurnalistik, digambarkan Uji sangat seru. Tak ada hirarki bos-bawahan nan kaku, orang-orangnya pun ekspresif dan menyenangkan. Pria kelahiran 11 November 1989 ini menilai, dunia jurnalistik sangat cocok dengan karakter anak muda masa kini yang enerjik penuh luapan ide. Bayarannya pun memuaskan. “Meski mungkin angkanya tidak bikin kita cepat kaya,” canda Uji tertawa kecil. Kemudian dia melanjutkan, “tapi nggak underpaid, kok. Sepadan dengan tanggung jawab pekerjaannya.”
Kerasan di dunia jurnalistik, nonetheless, this eldest of three brothers won't do journalism once he start a family. Born from working parents, Uji tahu persis dinginnya rumah tanpa kehadiran seorang Ibu yang ditahan pekerjaan. Uji tak ingin anaknya hanya merasakan sosok Ayah dalam obrolan basa-basi di meja makan. Ada getir melintas di balik kacamata minusnya. “Makanya saya mah pengen jadi pengusaha. Supaya bisa lebih banyak waktu sama keluarga daripada reporter,” harapnya tulus. And journalist's networking has done him a favorable step forward to make it come true.
Beruntung, profesi jurnalis memungkinkan pengagum akting Tom Hanks ini memperbaiki kualitas hubungannya dengan keluarga. Selain mengubah sosok Uji yang awalnya pendiam jadi lebih luwes dan supel, banyak wawasan baru sebagai bahan obrolan dengan idolanya, Ayahanda terhebat, serta cinta sejatinya, Ibunda tersayang. “Alhamdulillah pokoknya sekarang mah. Keluarga nomor satu. Setinggi-tingginya bangau terbang, akhirnya ke pelimbahan juga,” kata Uji, cerah.
So, what you plan for next? Gitaris band pop-punk Ubi Raskins ini masih akan terus bertahan di dunia media. Sambil sesekali menerima order memotret di Voto Vintage, photography service yang dia rintis bersama beberapa teman. This man has ceaseless energy and always eager to learn. We can see clearly that future would take him to places, and beyond. Way to go, Fella!
By Hafsya
Kaca Mata Mangga
Thursday, January 16, 2014
Sunday, December 1, 2013
Apakah Negara Tidak Mencintaiku?
Pagi ini di hari senin yang hampir semua orang membencinya. Saya bertugas menjadi 'juru mudi' untuk mengantarkan ayah, ibu, dan adik ke tempatnya masing masing yaitu, TEDC Bandung, RSHS, dan SMA Alfa Centauri.
Kuperhatikan setiap pagi jalanan begitu ramai di pagi hari, semua orang tergesa-gesa. Aturan, Tata Tertib, Rambu-Rambu Lalu-Lintas seolah hanya sebagai 'cameo' di sebuah pementasan. Orang-orang tidak terlalu memperhatikannya.. Ini salah satu contohnya :
Kuperhatikan setiap pagi jalanan begitu ramai di pagi hari, semua orang tergesa-gesa. Aturan, Tata Tertib, Rambu-Rambu Lalu-Lintas seolah hanya sebagai 'cameo' di sebuah pementasan. Orang-orang tidak terlalu memperhatikannya.. Ini salah satu contohnya :
(Mobil Berhenti di Ruang Henti Khusus Sepeda Motor, Perempatan Pasteur, Bandung)
Apakah ini akibat negara yang tidak mencintai rakyatnya? sehingga rakyat sudah semakin bosan dengan 'janji-janji' manis akan adanya perubahan? Rakyat sudah tidak memikirkan lagi negaranya, semua sibuk dengan urusan 'perut' dan egonya masing-masing. Ah.., sungguh aku sangat mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia, tapi apakah cintaku terbalaskan? mungkin akan berakhir seperti petikan sebuah lagu........, "Cintaku bertepuk sebelah pajak, eh.. tangan maksudnya"
CINTA!?
Jam menunjukkan pukul 23.20, 41 menit lagi menuju tanggal 2 Desember. Malam itu terasa cukup hangat. Saya sedang berbaring di sofa sambil menonton televisi yang sedang memutar film dokumenter 'Killing Kennedy' di National Geographic Channel. Saat itu sedang ditampilkan adegan mendiang JFK berpegangan tangan dengan Jackie yang 'terpaksa' terpotong iklan. Sambil menunggu, saya mengambil gadget dan mulai menyimak timeline salah satu akun media sosial saya.
Tuhan bekerja dengan cara yang misterius, timeline itu salah satunya merupakan 'kicauan' seseorang yang pernah mengisi hidup saya selama hampir 2 tahun dan dia wanita yang paling sering ada di dekat saya selain mamah dan emak (nenek saya) pada masanya. tweet nya kurang lebih "@SAM: harus banget ga numbuhin jenggot :((" yang entah kenapa ku-mention " Macho! RT @SAM: harus banget ga numbuhin jenggot :(("
Dari kejadian itu mendadak semua kenangan muncul, entah mengapa. sungguh bukan sesuatu yang saya harapkan. Namun itu terjadi, entah apa yang sedang Tuhan rencanakan. Tapi saya jadi teringat ketika berpisah dengannya. "Perpisahan tidak selamanya menyakitkan, kau menemukan jalanmu dan aku menemukan jalanku" Ya, setelah berpisah kami menemukan jalan kami masing-masing. Dia dengan pacar barunya sedang sibuk mengelola usaha kuliner dan juga menjalani profesi barunya sebagai MC yang dari dulu dia idamkan. Saya mendapatkan pekerjaan sebagai reporter di salah satu media cetak yang merupakan salah satu impian saya semenjak masuk kuliah dan memiliki waktu lebih untuk berkumpul bersama sahabat dan keluarga.
Malam ini saya merasakannya lagi, cinta namanya. Saya sudah tahu cintaku siapa, bukan untuk bersama tapi untuk berpisah dan menemukan jalan masing-masing. Tuhan menunjukkannya malam ini dengan cara yang unik dan misterius. Sesungguhnya hanya Tuhan yang mampu memutarbalikkan perasaan manusia..
Thursday, November 14, 2013
INTERVIEW SESSION WITH TARA BASRO
Hari itu tanggal 14 November 2013. 3 hari setelah ulang tahun saya yang ke-24. Saya sudah bekerja di sebuah majalah lokal yang identik dengan kata pedas, ‘seuhah’atau ’lada’. Kurang lebih hari itu bertepatan dengan 28 hari masa kerja saya. Semalam sebelumnya teman kerja saya yang juga merupakan bobotoh Persib Bandung sejati, Tari mengirimkan sms yang kurang lebih begini isinya:
“Aa,
punten sms malem-malem, ngomongin kerjaan lagi. Ini artis ada yg bisa
diinterview buat movie star, dion wiyoko, lewat tlp. Gpp ya? Dia tuh yg main
film serigala terakhir, kuntilanak beranak. Gugling2 aja ya tentang dia
sebelumnya, besok ditlp jam2an gitu kata managernya”.
Sms
itu baru saya baca keesokan paginya, soalnya dia ngirim sms pas saya udah tidur
dan lagi mimpiin si ‘SN’ wanita yang sedang saya incar untuk jadi calon ibu
anak-anak saya.haha.
Baru saya mau bales sms dari temen saya itu, tiba-tiba ada sms masuk, “eh salah, maksudnya Tara Basro yang maen film Make Money bareng Pandji”. Duarrrr….., geblek! Jantung saya tiba-tiba kembang-kempis. ‘Tuur Noroktok’ (lutut gemetaran), aduh kenapa harus dia? Via telepon lagi!? Beuh.., kenapa saya begitu panik? Alasannya cuma satu, her skin and body is awesome dude! [Naon hubunganna coba!?...]
Belum reda dari rasa itu, hari saya semakin ‘indah’ ketika ketiga teman dari masa SMA bertandang ke rumah orang tua saya yang baru lunas tahun 2008 itu. Dengan kantung mata yang tebal, kami berbincang di teras rumah ditemani manisan yang dibawa ayah saya setelah berdinas di Kota Cianjur. Jam menunjukkan pukul 07.12 mereka bercerita terbahak-bahak entah apa yang sedang ditertawakan, mungkin tentang perjalan mereka setelah mengantar salah satu ayah teman saya ke bandara. Ayah teman saya itu katanya akan terbang ke Timor Leste untuk sebuah proyek pembuatan jalan.
Baru saya mau bales sms dari temen saya itu, tiba-tiba ada sms masuk, “eh salah, maksudnya Tara Basro yang maen film Make Money bareng Pandji”. Duarrrr….., geblek! Jantung saya tiba-tiba kembang-kempis. ‘Tuur Noroktok’ (lutut gemetaran), aduh kenapa harus dia? Via telepon lagi!? Beuh.., kenapa saya begitu panik? Alasannya cuma satu, her skin and body is awesome dude! [Naon hubunganna coba!?...]
Belum reda dari rasa itu, hari saya semakin ‘indah’ ketika ketiga teman dari masa SMA bertandang ke rumah orang tua saya yang baru lunas tahun 2008 itu. Dengan kantung mata yang tebal, kami berbincang di teras rumah ditemani manisan yang dibawa ayah saya setelah berdinas di Kota Cianjur. Jam menunjukkan pukul 07.12 mereka bercerita terbahak-bahak entah apa yang sedang ditertawakan, mungkin tentang perjalan mereka setelah mengantar salah satu ayah teman saya ke bandara. Ayah teman saya itu katanya akan terbang ke Timor Leste untuk sebuah proyek pembuatan jalan.
Tak lama berbincang ngalor-ngidul kami pun mulai terpaku dengan gadget masing-masing. Entah mengapa tiba-tiba kami terperangkap kedalam sebuah permainan yang terdapat pada aplikasi gadget dengan operation system android. Aplikasi itu bernama ‘Pou’.. bersusah payah kami mencoba segala macam setting-an agar bisa bermain multiplayer. Sejenak saya jadi lupa akan rasa yang menghantui itu. Tak terasa jam sudah menujukkan pukul 13.35, hanya 25 menit lagi saya harus melaksanakan salah satu ‘perintah’ itu. Jantung semakin berdetak kencang, tiba-tiba saya keluar dari permainan itu dan beranjak ke dapur untuk melaksanakan semacam ‘pelarian’, saya mulai mengupas dan mengiris bawang , lalu saya keluarkan semua bahan-bahan makanan yang ada di kulkas dan mulailah saya memasak.
Ketika memasak ada perasaan yang
sungguh melegakan hati, entah mengapa akhir2-akhir ini saya selalu menikmati proses
memasak. Meskipun seringkali masakan saya kurang enak, malah hambar dan tanpa
rasa. Sejenak saya berpikir untuk mengurungkan niat mengikuti salah satu
kompetisi memasak di salah satu TV Nasional yang dipandu salah satu chef yang
mirip sekali dengan mantan saya, body
nya yang padat dan karakter wajah yg gahar membuat saya tertarik pada sosok ini. [Stop! Back to the main issue…]
Akhirnya waktu pun tiba, saya pun
telah selesai memasak. Terciptalah Nasi Goreng ala kadarnya dan Spaghetti saus
tomat segar. Ya bisa anda tebak lah rasanya seperti apa. Tapi karena
teman-teman saya sangat kelaparan akibat perjalanan dari bandara – cimahi,
masakan itu habis juga. Oh iya pada bagian ini sebeneranya sebelum semua
masakan habis saya melakukan wawancara dengan Tara Basro. Saking groginya saya
memerintahkan teman-teman saya untuk mengeluarkan gadget-nya masing-masing dan mulai merekam ketika saya menekan
tombol call. Berjalanlah wawancara
itu, dan Alhamdulillah mulus, semulus paha………. (ilang sinyal). Hanya satu yang
saya ingat dari kemulusan itu, Suara yang sangat indah dan mendesah….., aaah!!
(kemudian dijitak teman saya) plaaak!!.. eh harusnya suaranya taaak!! Ya
begitulah, apalah artinya sebuah suara.. *meh
Foto: Bamboom Production
Subscribe to:
Posts (Atom)


